Kebebasan Untuk Anak Anak

Seiring anak beranjak dewasa, mereka mulai menginginkan privasi sendiri. Selain sibuk dengan aktivitas di sekolah, anak juga perlu bersosialisasi bersama teman-temannya. Ketika anak masih kecil, orang tua dengan mudah memantau aktivitasnya. Namun ketika beranjak remaja, orang tua sering kesulitan memantau “kesibukan” mereka. Bahkan, sering kali rencana ideal orang tua terhadap anak terancam berantakan karena bentrok dengan keinginan anak. Saat hal ini terjadi, bagaimana sebaiknya orang tua memberi kebebasan pada anak?

Menginjak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), yaitu usia 12-13 tahun, anak mulai memasuki fase remaja. Fase inilah anak mulai merasa membutuhkan privasi, tidak lagi menceritakan hari-harinya di sekolah maupun saat bersama teman-temannya. Bahkan, bisa jadi mereka marah ketika orang tua bertanya tentang kegiatan mereka. Kalau sudah begini, biasanya orang tua yang ingin tahu terpancing untuk memata-matai anak di media sosial anak atau mengintip gawai anak.Sebuah survei yang baru-baru ini dilakukan oleh Pew Research Center menunjukkan bahwa 48 persen orang tua dari anak-anak usia 13-17 tahun telah membaca pesan teks anak-anak mereka. Sementara itu, 61 persen telah memantau situs mana yang dikunjungi anak-anaknya. Dalam sebuah penelitian yang disponsori oleh National Center for Missing & Exploited Children, 68 persen orang tua anak-anak usia 10-13 tahun mengatakan mereka memantau kegiatan telepon anak-anak mereka.

Beruntunglah bagi orang tua yang memiliki anak dengan sikap terbuka dan mau berbagi setiap saat. Akan tapi, jika anak sangat tertutup, orang tua harus mencari cara untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kehidupan anaknya. Di sisi lain, anak yang beranjak dewasa juga perlu memiliki kesempatan untuk menjaga privasinya.

Ini adalah keseimbangan yang rumit: bagaimana Anda memberi anak ruang untuk tumbuh dengan memberi kebebasan, sekaligus melindungi mereka. Tidak hanya dari bahaya yang Anda alami bersama, tapi juga dari dunia digital yang makin terbuka.

Menurut Devorah Heitner, PhD, penulis buku “Helping Kids Thrive (and Survive) in the Digital Age”, semakin Anda memata-matai anak-anak Anda, hal itu semakin mendorong anak untuk berbohong.

Deborah mencatat bahwa anak-anak mendambakan privasi dan akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya. Sebuah penelitian dari Belanda menemukan bahwa semakin banyak orang tua memantau mereka, semakin besar pula upaya yang dilakukan anak untuk menyembunyikan informasi. Hasilnya, orang tua menjadi putus asa karena informasi yang didapatkan menjadi lebih sedikit.

Kebebasan seperti apa yang sebaiknya diberikan pada anak?
Lalu, bagaimana sebaiknya orang tua memberi kebebasan kepada anaknya? Di bawah ini adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan.

Komentar